maktabahjamilah's Blog

بسم الله الرحمن الرحيم

Siapakah Hurun ‘In?

Rasulullah saw bersabda:

« أَوَّلُ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ عَلَى ضَوْءِ أَشَدِّ كَوْكَبٍ دُرِّىٍّ فِى السَّمَاءِ إِضَاءَةً لاَ يَبُولُونَ وَلاَ يَتَغَوَّطُونَ وَلاَ يَمْتَخِطُونَ وَلاَ يَتْفِلُونَ أَمْشَاطُهُمُ الذَّهَبُ وَرَشْحُهُمُ الْمِسْكُ وَمَجَامِرُهُمُ الأَلُوَّةُ (العود الهندي) أَزْوَاجُهُمُ الْحُورُ الْعِينُ أَخْلاَقُهُمْ عَلَى خَلْقِ رَجُلٍ وَاحِدٍ عَلَى صُورَةِ أَبِيهِمْ آدَمَ سِتُّونَ ذِرَاعًا ».

“Sesungguhnya kelompok pertama kali yang masuk ke dalam jannah itu seperti bentuk bulan di malam purnama, kemudian kelompok setelahnya bagaikan bintang yang sinarnya paling gemerlap di langit; mereka tidak kencing, tidak berak, tidak meludah, dan tidak berdahak. Sisir mereka adalah emas, keringat mereka adalah minyak wangi misk, menyan pewangi ruangan mereka adalah kayu aluwwah (kayu wangi asal India; semacam kayu gaharu), dan istri mereka adalah hurun ‘in. Akhlak mereka di atas akhlak satu orang (sama), dengan bentuk badan bapak mereka, Adam, yaitu setinggi 60 hasta.” HR Ibnu Majah dll, dari hadits Abu Hirr ra.

Jadi, hurun ‘in adalah istri penghuni jannah yang kekal abadi. Semoga Alloh Swt menerima amal kita di dunia sehingga ridha kepada kita dan akhirnya memasukkan kita ke dalam jannah-Nya yang kekal tiada henti. Amiiin.

Hurun ‘In. Sudah Adakah Detik Ini?

Rasulullah saw bersabda:

« لاَ تُؤْذِى امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ لاَ تُؤْذِيهِ قَاتَلَكِ اللَّهُ فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيلٌ يُوشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا ».

“Tidaklah seorang perempuan mengganggu suaminya di dunia, melainkan istrinya dari komunitas hurun ‘in menegur, “Jangan kau ganggu dia! Semoga Alloh memerangimu! Suamimu hanyalah singgah kepadamu; dan nyaris ia meninggalkanmu menuju kami.” HR Turmudzi dll, dari hadits Mu’adz ra; shahih.

Siapakah Tokoh Perempuan Penghuni Jannah?

Rasulullah saw bersabda:

“أَتَانِي مَلَكٌ فَسَلَّمَ عَلَيَّ. نَزَلَ مِنَ السَّمَاءِ لَمْ يَنْزِلْ قَبْلَهَا فَبَشَّرَنِي أَنَّ الْحَسَنَ وَ الْحُسَيْنَ: سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَ أَنَّ فَاطِمَةَ سَيِّدَةُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ”.

“Telah datang seorang malaikat kepadaku; ia turun dari langit dan belum pernah turun sebelumnya. Lalu dia memberikan kabar gembira kepadaku bahwa Hasan dan Husain adalah kedua tokoh pemuda penduduk jannah, dan bahwa Fathimah adalah tokoh perempuan penghuni jannah.” HR Ahmad dll, dari hadits Hudzaifah ra; shahih.

Namun ketokohan Fathimah ra di atas para perempuan penghuni jannah tidaklah bersifat mutlak. Rasulullah saw bersabda:

« فَاطِمَةُ سَيِّدَةُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ إِلاَّ مَا كَانَ مِنْ مَرْيَمَ بِنْتِ عِمْرَانَ ».

“Fathimah adalah tokoh perempuan penduduk jannah, selain untuk Maryam binti ‘Imran.” HR Ahmad dll, dari hadits Abu Sa’id ra; shahih.

Awas! Terdapat sebuah hadits sangat populer namun palsu, mengupas tentang keutamaan Fathimah ra kelak di hari kiamat, yaitu:

“إذا كان يوم القيامة نادى مناد من بطنان العرش (باطنه. الذي لا تدركه الأبصار): يا أهل الجمع ! نكسوا رءوسكم و غضوا أبصاركم حتى تمر فاطمة بنت محمد على الصراط فتمر مع سبعين ألف جارية من الحور العين كمر البرق”. (أبو بكر في الغيلانيات. عن أبي أيوب) موضوع!!!

“Jika datang hari kiamat, seorang penyeru berteriak dari bagian dalam ‘Arsy, “Hai para penghuni padang Mahsyar! Tundukkanlah kepala kalian dan mata kalian, sehingga Fathimah binti Muhammad lewat di atas shirat!” Lalu ia pun melintas bersama 70.000 cewek dari komunitas hurun ‘in, secepat kilat.” HR Abu Bakr dalam al-Ghailaniyat, dari hadits Abu Ayyub ra; HADITS PALSU!

Siapakah Perempuan-Perempuan Paling Utama di Jannah?

Rasulullah saw bersabda:

« أَفْضَلُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ خَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ وَمَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ ».

“Perempuan yang paling utama dari penghuni jannah adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti ‘Imran, dan Asiyah binti Muzahim (istri Fir’aun).” HR Ahmad dll, dari hadits Ibnu ‘Abbas ra; shahih.

“سَيِّدَاتُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَرْبَعٌ: مَرْيَمُ وَ فَاطِمَةُ وَ خَدِيْجَةُ وَ آسِيَةُ”. (ك) عن عائشة (صحيح)

“Tokoh penghnuni jannah dari kalangan perempuan ada 4 orang: Maryam, Fathimah, Khadijah, dan Asiyah.” HR Hakim dari hadits ‘Aisyah ra; shahih.

Dua Bidadari Catlita Untuk Penghuni Jannah Terendah

(Catlit= baca: Cantik Jelita Tiada Tara)

Rasulullah saw bersabda:

« إِنَّ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً رَجُلٌ صَرَفَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ قِبَلَ الْجَنَّةِ وَمَثَّلَ لَهُ شَجَرَةً ذَاتَ ظِلٍّ فَقَالَ أَىْ رَبِّ قَدِّمْنِى إِلَى هَذِهِ الشَّجَرَةِ فَأَكُونَ فِى ظِلِّهَا. فَقَالَ اللَّهُ هَلْ عَسَيْتَ إِنْ فَعَلْتُ أَنْ تَسْأَلَنِى غَيْرَهَا قَالَ لاَ وَعِزَّتِكَ. فَقَدَّمَهُ اللَّهُ إِلَيْهَا وَمَثَّلَ لَهُ شَجَرَةً ذَاتَ ظِلٍّ وَثَمَرٍ فَقَالَ أَىْ رَبِّ قَدِّمْنِى إِلَى هَذِهِ الشَّجَرَةِ أَكُونُ فِى ظِلِّهَا وَآكُلُ مِنْ ثَمَرِهَا. فَقَالَ اللَّهُ لَهُ هَلْ عَسَيْتَ إِنْ أَعْطَيْتُكَ ذَلِكَ أَنْ تَسْأَلَنِى غَيْرَهُ فَيَقُولُ لاَ وَعِزَّتِكَ. فَيُقَدِّمُهُ اللَّهُ إِلَيْهَا فَتُمَثَّلُ لَهُ شَجَرَةٌ أُخْرَى ذَاتُ ظِلٍّ وَثَمَرٍ وَمَاءٍ فَيَقُولُ أَىْ رَبِّ قَدِّمْنِى إِلَى هَذِهِ الشَّجَرَةِ أَكُونُ فِى ظِلِّهَا وَآكُلُ مِنْ ثَمَرِهَا وَأَشْرَبُ مِنْ مَائِهَا. فَيَقُولُ لَهُ هَلْ عَسَيْتَ إِنْ فَعَلْتُ أَنْ تَسْأَلَنِى غَيْرَهُ فَيَقُولُ لاَ وَعِزَّتِكَ لاَ أَسْأَلُكَ غَيْرَهُ. فَيُقَدِّمُهُ اللَّهُ إِلَيْهَا فَيَبْرُزُ لَهُ بَابُ الْجَنَّةِ فَيَقُولُ أَىْ رَبِّ قَدِّمْنِى إِلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَأَكُونَ تَحْتَ نِجَافِ الْجَنَّةِ وَأَنْظُرَ إِلَى أَهْلِهَا. فَيُقَدِّمُهُ اللَّهُ إِلَيْهَا فَيَرَى أَهْلَ الْجَنَّةِ وَمَا فِيهَا فَيَقُولُ أَىْ رَبِّ أَدْخِلْنِى الْجَنَّةَ. قَالَ فَيُدْخِلُهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ – قَالَ – فَإِذَا دَخَلَ الْجَنَّةَ قَالَ هَذَا لِى قَالَ فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ تَمَنَّ . فَيَتَمَنَّى وَيُذَكِّرُهُ اللَّهُ سَلْ مِنْ كَذَا وَكَذَا حَتَّى إِذَا انْقَطَعَتْ بِهِ الأَمَانِىُّ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ لَكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ – قَالَ – ثُمَّ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ فَتَدْخُلُ عَلَيْهِ زَوْجَتَاهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ فَيَقُولاَنِ لَهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَاكَ لَنَا وَأَحْيَانَا لَكَ. فَيَقُولُ ما أُعْطِىَ أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُعْطِيتُ ».

“Sesungguhnya penghuni jannah yang terendah posisinya adalah seorang lelaki yang Alloh palingkan wajahnya dari neraka, menghadap ke jannah, dan digambarkan kepadanya sebuah pohon yang amat rindang. Maka dia berkata, “Wahai Rabbku, majukanlah aku hingga ke pohon ini, sehingga aku dapat berteduh di bawahnya.” Alloh menjawab, “Barangkali kau nanti akan meminta yang lain kepada-Ku?” Dia jawab, “Tidak, demi Keagungan-Mu!” Maka Alloh pun memajukannya hingga ke pohon tersebut. Lalu digambarkan pula kepadanya sebuah pohon yang amat rindang nan berbuah. Maka dia berkata, “Wahai Rabbku, majukanlah aku hingga ke pohon ini, sehingga aku dapat berteduh di bawahnya dan memakan buahnya.” Alloh menjawab, “Barangkali jika Kuberikan itu kepadamu, kau nanti akan meminta yang lain kepada-Ku?” Dia jawab, “Tidak, demi Keagungan-Mu!” Maka Alloh pun memajukannya hingga ke pohon tersebut. Lalu digambarkan lagi kepadanya sebuah pohon lain yang amat rindang, berbuah, dan terdapat air di bawahnya. Maka dia berkata, “Wahai Rabbku, majukanlah aku hingga ke pohon ini, sehingga aku dapat berteduh di bawahnya, memakan buahnya, dan meminum airnya.” Alloh menjawab, “Barangkali jika Kukabulkan, kau nanti akan meminta yang lain kepada-Ku?” Dia jawab, “Tidak, demi Keagungan-Mu! Aku takkan meminta kepada-Mu selain itu.” Maka Alloh pun memajukannya hingga ke pohon tersebut. Lalu ditampakkanlah pintu jannah kepadanya, maka dia pun memelas, “Wahai Rabbku, majukanlah aku hingga ke pintu jannah, sehingga aku berada di bawah bangunan tinggi jannah, agar aku dapat melihat penghuninya. Maka Alloh pun memajukannya ke jannah hingga ia melihat jannah dan isinya. Maka ia pun berkata, “Wahai Rabbku, masukkanlah aku ke dalam Jannah.” Lalu ia pun dimasukkan ke dalam jannah. Jika ia telah masuk ke dalamnya, ia bertanya, “Ini untukku?” Alloh menjawab, “Berangan-anganlah!” Lalu ia pun berangan-angan, dan Alloh ‘Azza wa Jalla mengingatkannya: “Mintalah ini, mintalah itu.” Hingga di saat angan-angannya telah habis, Alloh berkata, “Itu semua untukmu dan sepuluh kali lipatnya.” Lalu Alloh memasukkannya ke dalam jannah, maka 2 bidadari hurun ‘in masuk menjumpainya lalu berkata, “Segala puji hanyalah bagi Alloh yang telah menghidupkan Anda untuk kami dan menghidupkan kami untuk Anda.” Ia pun berujar, “Sungguh tiada seorang pun yang diberi sesuatu melebihi nikmatku ini.” HR Muslim dll dari hadits Abu Sa’id ra.; shahih. (Lafal hadits di atas dari riwayat Ahmad)

Bonus 72 Hurun ‘In Untuk Syuhada’

Rasulullah saw bersabda:

« إِنَّ لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ – قَالَ الْحَكَمُ – سِتَّ خِصَالٍ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ فِى أَوَّلِ دَفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ وَيَرَى – قَالَ الْحَكَمُ وَيُرَى – مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُحَلَّى حُلَّةَ الإِيمَانِ وَيُزَوَّجَ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ وَيُجَارَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَيَأْمَنَ مِنَ الْفَزَعِ الأَكْبَرِ – قَالَ الْحَكَمُ يَوْمَ الْفَزَعِ الأَكْبَرِ – وَيُوضَعَ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ الْيَاقُوتَةُ مِنْهُ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَيُزَوَّجَ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنَ الْحُورِ الْعِينِ وَيُشَفَّعَ فِى سَبْعِينَ إِنْسَاناً مِنْ أَقَارِبِهِ ».

“Seorang syahid mendapatkan 7 hal di hadapan Alloh: 1) Diberi ampunan di awal darahnya tertumpah. 2) Melihat tempatnya di Jannah. 3) Diberi perhiasan dengan perhiasan iman, 4) Dinikahkan dengan 72 istri dari hurun ‘in [Ya Alloh, berilah ana 72/lebih istri hurun ‘in tercantik di Jannah. Amiiin. Pen.], 5) Dilindungi dari siksa kubur, dan diberi aman dari kekagetan terbesar (terompet kedua dari malaikat isra`il; untuk kebangkitan makhluk dari alam kubur), 6) Diletakkan pada kepalanya sebuah mahkota kewibawaan; yang satu butir mutiara darinya lebih baik daripada dunia seisinya, dan 7) Diberi hak memberikan syafaat kepada 70 orang dari ahli rumahnya.” HR Turmudzi dll dari hadits Miqdam bin Ma’di Karib; shahih.

  • Perhatian!

Dalam riwayat Turmudzi, Ibnu Majah, dan Ahmad, hadits ini diriwayatkan dengan redaksi: “6 hal” (bukan 7 hal). Namun demikian, al-Haitsami menjelaskan dalam Majma’ az-Zawa`id (5/351): “Demikianlah diriwayatkan oleh Ahmad. Diriwayatkan pula oleh Bazzar & Thabarani semisal hadits ini, hanya saja dalam Riwayat Thabarani disebutkan: “7 hal”. Dan kenyataannya memang disebutkan 7 hal. Baik para rawi untuk riwayat Ahmad & Thabarani adalah rawi-rawi tsiqat.

Bau Badan & Sinar Terang Hurun ‘In

Rasulullah saw bersabda:

« لَغَدْوَةٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَلَقَابُ قَوْسِ أَحَدِكُمْ أَوْ مَوْضِعُ يَدِهِ فِى الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى الأَرْضِ لأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا وَلَمَلأَتْ مَا بَيْنَهُمَا رِيحًا وَلَنَصِيفُهَا عَلَى رَأْسِهَا خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ».

“Sungguh satu pagi di jalan Alloh atau satu sore itu lebih baik daripada dunia seisinya. Dan sungguh sekira satu busur atau tempat cambuk seseorang di dalam jannah itu lebih baik daripada dunia seisinya. Dan seandainya seorang perempuan dari perempuan penghuni jannah melihat ke bumi, niscaya ia memenuhi antara langit dan bumi dengan bau wangi, dan niscaya ia menyinari antara keduanya, dan sungguh kerudung di atas kepalanya lebih baik daripada dunia seisinya.” Muttafaqun ‘alaih, dari hadits Anas ra. (Namun redaksi yang lengkap ini adalah riwayat Turmudzi)

Nyanyian Merdu “Memabukkan” dari Hurun ‘In

Rasulullah saw bersabda:

“إِنَّ الْحُورَ الْعِينَ لَتُغَنِّيْنَ فِي الْجَنَّةِ يَقُلْنَ: “نَحْنُ الْحُورُ الْحِسَانُ خُبِّئْنَا  ِلأَزْوَاجٍ كِرَامٍ”. (سمويه) عن أنس (صحيح)

“Sesungguhnya hurun ‘in sungguh berdendang di dalam jannah: “Kami adalah para bidadari yang cantik … Kami disimpan untuk (diserahkan) kepada para suami yang mulia.” HR Sumawaih dari hadits Anas ra; shahih.

Adapun nyanyian lengkap berikut ini, diriwayatkan dalam hadits dha’if yang artinya: “Di dalam Jannah terdapat suatu komunitas hurun ‘in; mereka mengeraskan suara-suara yang tidak didengar semisalnya oleh para makhluk: “Kami adalah para perempuan kekal abadi maka kami takkan fana/biasa. Kami para perempuan penuh kenikmatan maka tidak akan sakit. Kami para perempuan penuh kerelaan hati maka takkan pernah marah. Sungguh beruntung siapa saja yang menjadi milik kami dan kami menjadi miliknya.” HR Turmudzi dari hadits ‘Ali ra; DHA’IF.

Bonus Hurun ‘In Paling Top Bagi Penahan Marah

« مَنْ كَظَمَ غَيْظًا – وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ – دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ ».

“Siapapun yang menyembunyikan/menahan amarah padahal mampu melampiaskannya, niscaya Alloh menyerunya di hadapan para makhluk, hingga Dia menyuruhnya memilih hurun ‘in; Dia akan menikahkannya dengan pilihannya sesuai kemauannya.” HR Imam Empat dari hadits Mu’adz bin Anas ra; hadits hasan.

Hurun ‘In dari Istri Antum di Dunia

Rasulullah saw bersabda:

“أَيُّمَا امْرَأَةٍ تُوُفِّيَ عَنْهَا زَوْجُهَا فَتَزَوَّجَتْ بَعْدَهُ فَهِيَ  ِلآخِرِ أَزْوَاجِهَا”. (طس) عن أبي الدرداء  (صحيح)

“Siapapun perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya, lalu ia menikah setelah itu, maka ia menjadi milik suami terakhirnya (kelak di dalam jannah).” HR Thabarani dari hadits Abu Darda` ra; shahih.

عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ لاِمْرَأَتِهِ : إِنْ سَرَّكِ أَنْ تَكُونِى زَوْجَتِى فِى الْجَنَّةِ فَلاَ تَزَوَّجِى بَعْدِى فَإِنَّ الْمَرْأَةَ فِى الْجَنَّةِ لآخِرِ أَزْوَاجِهَا فِى الدُّنْيَا فَلِذَلِكَ حَرُمَ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يَنْكِحْنَ بَعْدَهُ لأَنَّهُنَّ أَزْوَاجُهُ فِى الْجَنَّةِ.

Hudzaifah berkata kepada istrinya, “Jika Anda gembira menjadi istriku di Jannah, maka janganlah Anda menikah sepeninggalku, sebab seorang perempuan di Jannah menjadi milik suami terakhirnya di dunia. Karena itulah haram bagi istri-istri Nabi saw untuk menikah sepeninggal beliau, karena mereka adalah istri-istri beliau pula di Jannah kelak.” Riwayat Baihaqi nomor 13803.

Ranjang Cinta Mesra Asmara Hurun ‘In

Rasulullah saw bersabda:

“إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ اِذَا جَامَعُوا نِسَائَهُمْ عَادُوا أَبْكَارًا”. (ضعفه في ضعيف الجامع 1830 ثم صححه في الصحيحة 3351 بلفظ: «نَعَمْ ـ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ ـ دُحْمًا دُحْمًا! فَإِذَا قَامَ عَنْهَا رَجَعَتْ مُطَهَّرَةً بِكْرًا») [دحما: دفعه شديدا]

“Sesungguhnya penghuni jannah jika bersenggama dengan istri mereka, para istri itu pun kembali menjadi perawan.” Hadits ini mulanya dinilai dha’if oleh Syaikh al-Albani, kemudian beliau menilainya shahih dengan redaksi: “Ya. Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya! (Mereka bersenggama) secara dahsyat keras. Lalu jika suaminya bangkit darinya, ia pun kembali suci perawan.”

Benarkah Cewek Hurin ‘In Terlihat Sungsum Tulangnya Kakinya?

Ada diriwayatkan begini Pak:

“إن المرأة من نساء الجنة ليرى بياض ساقها من وراء سبعين حلة حتى يرى مخها و ذلك بأن الله تعالى يقول: {كأنهن الياقوت و المرجان} فأما الياقوت فإنه حجر لو أدخلت فيه سلكا ثم استصفيته (جَعْلتهُ صَافِيًا نَقِيًّا مِنْ الْكُدُورَةِ) لرأيته من ورائه”. (ت) عن ابن مسعود (ضعيف) [التعليق الرغيب 4 / 263]

“Sesungguhnya seorang perempuan dari penghuni jannah sungguh terlihat putih betisnya dari balik 70 selendang, hingga terlihat pula sungsumnya. Hal itu sebagaimana ditegaskan oleh Alloh Ta’ala: “Mereka bagaikan permata yakut dan marjan”. Yakut adalah: sebuah batu yang jika Anda memasukkan sebuah kabel di dalamnya, kemudian Anda menjernihkannya dari kotoran, niscaya dapat Anda lihat kabel itu dari bagian luarnya.” HR Turmudzi dari hadits Ibnu Mas’ud; HADITS DHA’IF.

Oleh karena hadits ini dha’if, maka tidaklah dapat dijadikan sebagai hujah. Waspadalah! Meskipun populer namun jika tidak berlandaskan dalil shahih maka tidak seyogyanya diterima begitu saja. Wallahu A’lam. Hadits dha’if ini ditakhrij juga oleh Ibnu Abi Dunia dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya. (Tuhfatul Ahwadzi 2456) Penjelasan mengenai kedha’ifan hadits ini dapat Antum lihat pada kitab at-Ta’liq ar-Raghib karya Syaikh al-Albani, juz 4 hlm. 263.

HADITS-HADITS DHA’IF & PALSU SEPUTAR HURUN ‘IN

Antara lain:

  1. Hurun ‘in diciptakan dari za’faran (minyak wangi wanita berwarna kuning): HR Thabarani dari hadits Abu Umamah; dha’if.
  2. Hurun ‘in diciptakan dari tasbih malaikat: HR Ibnu Mardawaih dari hadits ‘Aisyah ra; dha’if.
  3. Sebuah sinar terang memancar di Jannah, maka dikatakan: Apa ini? Ternyata sinar berasal dari gigi seorang hurun ‘in yang sedang tertawa di hadapan suaminya: HR Hakim dari hadits Ibnu Mas’ud ra; MAUDHU’ (PALSU).
  4. Menyapu masjid menjadi mahar bagi hurin ‘in: HR Ibnul Jauzi dari hadits Anas; MAUDHU’ (PALSU).
  5. Mengeluarkan sampah dari masjid merupakan mahar bagi hurun ‘in: HR Thabarani dari hadits Abu Qarshafah; dha’if.
  6. Betapa banyak hurun ‘in yang maharnya cukup dengan segenggam biji gandum atau segenggam kurma kering: HR ‘Uqaili dari hadits Ibnu ‘Umar ra; dha’if.
  7. Beberapa genggam kurma kering yang disedekahkan kepada orang-orang miskin menjadi mahar bagi hurun ‘in: HR Daraquthni dalam al-Afrad dari hadits Abu Umamah ra; MAUDHU’ (PALSU).
  8. Al-Qur’an terdiri dari 1 juta 27 ribu huruf. Siapapun membacanya secara sabar dan mengharap pahala, niscaya ia mendapat hurun ‘in untuk setiap hurufnya: HR Thabarani dari hadits ‘Umar ra; MAUDHU’ (PALSU).

MENU KUTEB HURUN ‘IN

  1. Siapakah Hurun ‘In?
  2. Hurun ‘In. Sudah Adakah Detik Ini?
  • Kayu Wangi Aluwwah
  1. Siapakah Tokoh Perempuan Penghuni Jannah?
  2. Siapakah Perempuan-Perempuan Paling Utama di Jannah?
  1. Dua Bidadari Catlita Untuk Penghuni Jannah Terendah
  2. Bonus 72 Hurun ‘In Untuk Syuhada’
  • Al-Faza`ul Akbar (Kekagetan Terbesar)
  • Perhatian!
  1. Bau Badan & Sinar Terang Hurun ‘In
  2. Nyanyian Merdu “Memabukkan” dari Hurun ‘In
  3. Bonus Hurun ‘In Paling Top Bagi Penahan Marah

10. Hurun ‘In dari Istri Antum di Dunia

11. Ranjang Cinta Mesra Asmara Hurun ‘In

  1. Benarkah Cewek Hurin ‘In Terlihat Sungsum Tulangnya Kakinya?
  2. HADITS-HADITS DHA’IF & PALSU SEPUTAR HURUN ‘IN

[ Koreksi isi langsung kepada penulis: Abu Zaidan al-Mahfouz 0878 3601 3279. Jazakumullahukhairan ya akhi/ukhti ]

وَ اللهُ تَعَالَى أَعْلَمُ. وَ عِلْمُهُ أَتَمُّ. وَ الْحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ. (ذو الحجة 1430 هـ/2009 م)

Alhamdulillah, ana telah membaca kuteb ini hingga tamat pada: …

Bismillah

PUTRA

MENJALANKAN SYARIAT ISLAM

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (4)

(KHUTBATUL HAJAH)

الله أكبر . الله أكبر . الله اكبر . لا إله إلا الله . والله أكبر . الله أكبر . ولله الحمد .

Ma’asyiral Muslimin, Rahimakumullah

Di hari yang berbahagia ini, kembali Allah mengumpulkan kita dalam satu majlis untuk saling mengingatkan dalam meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah… karena takwa merupakan pokok dari setiap amalan kita… dan ketakwaan itulah yg menjadi modal kita untuk mendapat belas kasih/rahmat Allah SWT. hingga kita dimasukkan ke dalam Jannah-Nya…

Di hari yang berbahagia ini pula, kembali Allah mengingatkan kita untuk mencontoh ketakwaan Nabi Ibrahim as. Dia telah memberi kita contoh mulia hingga terlahirlah dari didikkannya pemuda-pemuda bertakwa, anak-anak yang siap memperjuangankan syariat Allah.

Ma’asyiral Muslimin, Rahimakumullah

Mari kita mengulang sejarah, ketika Nabi Ibrahim as. benar-benar menyerahkan dirinya hanya u/ Allah SWT… Nabi Ibrahim as. mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail as.. ketika beliau menyampaikan perintah itu kepada Nabi Ismail… dengan penuh keberanian, Nabi Ismail memenuhi panggilan sang ayah, bahkan dengan penuh keyakinan dan kesabaran Nabi Ismail dg lantang mengatakan:

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Wahai ayahku, laksanakan perintah Allah! InsyaAllah engkau akan dapati aku dalam keadaan bersabar.”

Subhanallah, Nabi Ibrahim sebagai seorang ayah yang cinta kepada Anaknya, tiba-tiba mendapat perintah dari Allah u/ menyembelih buah hatinya… tapi cinta beliau kepada Allah jauh lebih besar… perintah Allah harus dilaksanakan meski harus mengorbankan nyawa kesayangannya…

Dan Subhanallah, Nabi Ismail sebagai seorang anak yang telah tumbuh dalam didikan Islam… Nabi Ismail mendukung dan mendorong ayahanda untuk tidak gentar dalam melaksanakan perintah/syariat Allah…

Ma’asyiral Muslimin, Rahimakumullah

Itulah contoh yang diberikan oleh 2 orang mulia, 2 Nabi Allah, ayah dan anak yang taat, tunduk, patuh kpd aturan2 Allah, keluarga yang saling tolong menolong dalam melaksanakan aturan2 Allah…

(Seruan Menjalankan Syariat)

Allah SWT. telah memerintahkan pula kepada kita untuk menjalankan Syari’at Islam:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (65)

“Demi Pemeliharamu hai Muhammad, demi Allah, tidaklah mereka beriman sampai mereka berhukum kepadamu dalam semua urusan perselisihan mereka, kemudian mereka tidak merasa berat dari setiap perkara yang engkau putuskan dan mereka berserah diri dengan sebenar-benarnya.” (Qs. An-Nisa’: 65)

Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia itu tidaklah dikatakan beriman bila tidak berhukum dengan hukum Allah dan Rasul-Nya. Maka, menjadi kewajiban kita untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan menjalankan syariat Islam… Aturan Islam harus menjadi undang-undang keseharian yang mengontrol gerak langkah kita… Aturan Islam harus menjadi manajemen amal perbuatan kita sehari-hari…

(Undang2 manusia batil, MENGUNDANG SIKSA)

Ma’asyiral Muslimin, Rahimakumullah

Allah telah melarang kita untuk mengikuti undang-undang yang dibuat manusia, undang-undang yang justru menjauhkan kita dari aturan Allah dan Rasul-Nya, undang-undang yang akan menjerumuskan para penganutnya ke dalam jurang api Neraka… semua undang-undang yang tidak datang dari Allah dan Rasul-Nya adalah thagut, dan kita diperintah untuk mengikuti aturan Allah dan diperintah untuk tidak mengikuti aturan-aturan thagut…

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (36)

“Dan sungguh Kami telah mengutus di tiap kaum itu seorang utusan yang menyeru untuk menyembah Allah dan menyeru untuk menjauhi thagut… maka di antara mereka ada yang mendapat petunjuk Allah dan ada pula yang tersesat… maka bepergianlah di atas muka bumi dan perhatikan bagaimana akhir urusan bagi orang2 yang mendustakan.” (Qs. Az-Zumar: 36)

Bahkan di dalam ayat yang dibaca di muka tadi, Nabi Ibrahim as. dengan lantang menyatakan di hadapan kaumnya; Kami berlepas diri dari kekufuran kalian dan berlepas diri dari apa yang kalian sembah selain Allah. Dan kami nyatakan permusuhan antara kami dan kalian sampai kalian mau beriman kepada Allah semata…

Sudah saatnya kita menyatakan dengan tegas… bahwa kita adalah orang-orang beriman yang mengikuti aturan-aturan Allah saja… dan kita menolak mentah2 pemikiran2 Thagut, ajaran2 sesat, pendapat2 liberal serta kemauan2 orang kafir, meskipun jumlah mereka banyak. Karena Allah telah menyatakan:

{ وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ } 116

“Dan jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Qs. Al-An’am: 116)

(Bencana-bencana Nasional)

Ma’asyiral Muslimin, Rahimakumullah

Bencana, musibah, malapetaka yang akhir-akhir ini sering menimpa kita, menimpa rakyat Indonesia, adalah disebabkan oleh kelakuan-kelakuan kita sendiri… mulai dari pemerintah hingga rakyat jelata yang tidak mau menegakkan syariat Allah… ditambah dengan adanya manusia-manusia yang selalu dan selalu melakukan kemaksiatan kepada Allah… maka tak heran, hai umat Islam, bila bencana demi bencana, mulai dari musibah lumpur yang tak kunjung selesai, bencana banjir dahsyat yang menimpa perkotaan hingga kehancuran di pedesaan, gempa yang terjadi berulang kali, disusul dengan dekadensi moral, hancurnya akhlak anak-anak muda, hingga kita ditimpa dengan perang pemikiran2 sesat, bahkan akidah kita dirongrong, kita semua digiring untuk sengsara di dunia dan di akhirat… innalillahi wa inna ilaihi rojiun…

Ma’asyiral Muslimin, Rahimakumullah

Itulah akibatnya karena kita tidak mau beriman dan bertakwa… itulah musibah yang menyengsarakan karena kita tidak menjadikan syariat Allah sebagai aturan hidup kita.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ [وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ] } [الأعراف: 96]

“Kalau saja penduduk suatu negeri mau beriman dan bertakwa, sungguh Kami akan bukakan pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi… akan tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami binasakan mereka dari sebab apa yang mereka kerjakan.” (Qs. Al-A’raf: 96)

(Bagaimana praktis menjalankan syariat)

Ma’asyiral Muslimin, Rahimakumullah

Di hari yang bahagia ini, saya mengajak umat Islam mari kita beriman dan bertakwa. Lalu bagaimana kita beriman dan bertakwa? Kita akan memahaminya bila kita mempelajari Al-Qur’an & Sunnah. Maka dari itu, marilah kita mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah dan berusaha mengamalkannya…

(Hidup berjamaah & menjaga Shalat Berjamaah)

Ma’asyiral Muslimin, Rahimakumullah

Dari sekian banyak perintah-perintah Allah kepada kita dalam menjalankan syariat Islam, Allah menyuruh umat Islam untuk hidup berjamaah, Allah nyatakan dalam Al-Qur’aul Karim:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah secara keseluruhan dan janganlah kalian berpecah belah.”

Ibnu Katsir menjelaskan ayat tersebut dalam tafsirnya; Allah memerintah orang beriman untuk berjamaah dan melarang mereka dari berpecah belah.

Bahkan Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمْ الْجَمَاعَةَ

“Barangsiapa yang menginginkan bau surga hendaklah melazimi jama’ah.”

Kedisiplinan dalam mengarungi kehidupan ini dengan berjamaah sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw., bagaimana beliau membangun masyarakat Madinah dengan menyuruh mereka untuk shalat secara berjamaah, setiap perkara disyurokan secara berjamaah, bahkan ketika terjun ke medan perang pun… mereka bergerak secara berjamaah, di dalam pasukan itu ada pemimpin dan yang dipimpin. Sang pemimpin memimpin rakyatnya dengan penuh ketakwaan kepada Allah, baik dan bijaksana. Dan yang dipimpin, selama tidak menyalahi aturan Allah dan Rasul-Nya, ia tunduk, patuh dan taat kepada sang pemimpin.

Hai umat Islam…

Orang-orang kafir tahu kelemahan kita… mereka tahu kehancuran umat ini dimulai dari perpecahan yang terjadi dalam tubuh kaum muslimin. Mereka berusaha terus u/ bisa memecah belah umat Islam. Bila umat Islam sudah mulai saling curiga, saling menyalahkan, maka saat itu pula mereka masuk untuk melancarkan doktrin2 sesat, mulai dari munculnya nabi-nabi baru, belum lagi ucapan-ucapan orang-orang bodoh yang mengatakan bahwa syariat Islam itu tidak pantas u/ rakyat Indonesia… syariat Islam menyengsarakan masyarakat Indonesia…dst…dst… bahkan akhir-akhir ini mereka mendobrak keyakinan kita.. melalui film dan layar lebar mereka menggaungkan kiamat 2012… akidah kita sedang dirusak… akidah kita diacak2…

tapi mengapa ketika kita sadar mereka sedang merusak akidah umat Islam, justru umat Islam sendiri suka berpecah belah dan saling menjatuhkan… kenapa?!

Hai Umat Islam, bukan perpecahan yang didiridoi oleh Allah… akan tetapi Allah meridoi hidup berjamaah.

Maka, pada kesempatan yg bahagia ini, yg mulia ini, dan penuh barakah ini… saya mengajak umat Islam u/ mengingat kembali perintah Allah:

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (208)

“Wahai orang-orang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh) janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaithan sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (Qs. Al-Baqarah: 208)

Marilah kita kembali kepada Allah, bertaubat kepada Allah, mohon ampun atas segala salah dan khilaf. Dan tak lupa marilah berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah… mari kita menjalankan syariat Allah, mari kita mengarungi kehidupan ini dengan berjamaah… saling tolong menolong dalam ketakwaan… mudah-mudahan Allah meridhoi amal perbuatan kita semua… amien..amien..ya Rabbal ‘alamin… barakallohu li wa lakum…

(DOA)

PUTRI

PERAN IBU DALAM MENDIDIK ANAK

Semua bayi lahir dalam kead. Fitrah

Kaum ibu yang dirahmati Allah…

Rasulullah saw. bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah maka orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi atau nasrani atau majusi…”

Kaum ibu yang dirahmati Allah… di khutbah yang khusus ini… saya ingin mengingatkan bahwa Anda adalah madrasah bagi putra dan putri Anda… Anda adalah tempat dimana sang anak akan terbentuk karakternya… Anda menjadi tempat bagi pendidikan buah hati Anda… maka Andalah yang menentukan kedewasaan putra-putri menjadi orang yang baik atau anak yang durhaka…

Kaum ibu yang dirahmati Allah…

Janganlah Anda biarkan anak-anak Anda tumbuh dalam kesesatan… tumbuh dalam kebingungan soal agama… tumbuh menjadi anak yang bodoh soal akhirat… didiklah mereka dengan didikan agama yg benar… sekolahkan mereka di madrasah yang mengetahui bagaimana berbuat baik kepada orang tuanya… bagaimana menjalankan kewajiban2 agamanya… Anak yang shaleh dan shalehah merupakan dambaan kita semua…

Didiklah mereka dalam naungan Al-Qur’an… hingga mereka hafal dan mengamalkan kitab suci mereka… dengan demikian Allah akan mengenakan kepada orang tuanya mahkota indah nan gemerlap… Rasulullah saw. bersabda:

Tidak sampai di situ, sang anak yang shaleh akan menjadi bekal bagi orang tuanya yang akan menambah pahala bagi orang tuanya… Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seseorang telah meninggal maka terputuslah amalannya kecuali dari 3 perkara: shadaqah jariyah, ilmu bermanfaat yang diamalkan dan anak shaleh yang mendoakan bagi orang tuanya.”

Salah satu yg menjadi amal jariah bagi orang tua setelah meninggalnya adalah anak yang shaleh yang tentunya ia dibesarkan dengan pendidikan Islam yang benar… karena anak merupakan kasb (usaha) orang tuanya. Maka, setiap kebaikan dan keshalehan yang dilakukan anak… selama dirinya senantiasa berada dalam keshalehannya, maka setiap itu pula orang tua mendapat limpahan pahala dari Allah SWT…

Harapan berikutnya adalah kita dikumpulkan dengan keluarga, anak keturunan kita di akhirat kelak… tapi ingat Allah mensyaratkan ‘keimanan yg benar’ antara orang tua dan keturunan…

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ (21)

“Dan orang-orang yang beriman dan diikuti oleh keturunan mereka dengan keimanan, maka akan kami kumpulkan mereka dengan anak cucunya…”

Dan saya mengakhiri khutbah saya, kepada kaum ibu, perbanyaklah shadaqah, biasakanlah untuk suka memberi, ajari pula putra-putri Anda u/ biasa bersedekah… itulah yang diajarkan oleh Rasulullah kepada istri-istri beliau dan juga kepada para sahabat dari kalangan muslimat…

(DOA)

Tashaddaqna… tashaddaqna…

Jabir bin Abdillah d berkata: Adalah Rasulullah i mengajari kami shalat Istikharah untuk memutuskan segala sesuatu, sebagaimana mengajari surah Al-Qur-an. Beliau bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu mempunyai rencana untuk mengerjakan sesuatu, hendaknya melakukan shalat sunah (Istikharah) dua rakaat, kemudian bacalah doa ini: 

 ((اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ -وَيُسَمَّى حَاجَتَهُ- خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ -أَوْ قَالَ: عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ- فَاقْدُرْهُ لِيْ وَيَسِّرْهُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ -أَوْ قَالَ: عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ- فَاصْرِفْهُ عَنِّيْ وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِيْ بِهِ)).

 “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepadaMu dengan ilmu pengetahuanMu dan aku mohon kekuasaanMu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaanMu. Aku mohon kepadaMu sesuatu dari anugerahMu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (orang yang mempunyai hajat hendaknya menyebut persoalannya) lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terhadap diriku atau Nabi i bersabda: …di dunia atau akhirat sukseskanlah untuk ku, mudahkan jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, perekonomian dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untuk ku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaanMu kepadaku.”[1]

Dikutip dari Hisnul Muslim do’a nomor 74


[1] HR. Al-Bukhari 7/162.

AMAL  RINGAN

PAHALA JUMBO

 

di baca

MINIMAL 3 X  / hari

pahala

sama dengan wirid-wirid lain

sejak ba’da Shubuh sampai waktu dhuha

سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ

Maha suci Allah, sejumlah makhlukNya

سُبْحَانَ اللَّهِ رِضَا نَفْسِهِ

Maha suci Allah, peridho diriNya

سُبْحَانَ اللَّهِ زِنَةَ عَرْشِهِ

Maha suci Allah, setimbang ‘arsyNya

سُبْحَانَ اللَّهِ مِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Maha suci Allah, sebanyak tinta untuk kalimat-kalimatNya

HR. Muslim no. 4905 dan Ibnu Majah no. 3798

(maktabah syamilah)

بسم الله الرحمن الرحيم

 

F I K I H   D A K W A H

Dakwah ialah mengajak / menyeru orang lain untuk amar ma’ruf (memerintahkan kepada yang ma’ruf) dan nahi munkar (melarang dari yang munkar).

Setiap individu muslim harus berdakwah, sebab Allah berfirman di dalam surat Ali Imran (3): 110:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ … (110)

Artinya: “Kalian adalah sebaik-baik ummat yang ditampilkan untuk manusia, kalian memerintahkan kepada yang ma’ruf, melarang dari yang munkar dan beriman kepada Allah.”

Bahkan ada perintah supaya ummat ini berdakwah, sebagaimana terdapat dalam surat Ali Imran (3):104

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُوْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ… (104)

Artinya: “Dan hendaklah ada dari kalian itu suatu ummat yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar…”

Ayat di atas menjelaskan bahwa beban dakwah ini dipikul oleh setiap orang muslim, baik itu laki-laki maupun perempuan yang sudah baligh.  Sedangkan bagi mereka yang enggan dan berlepas diri dari tugas ini, maka Allah mengancam dengan firman Nya pada surat At-Taubah (9): 38-39:

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا مَا لَكُمْ إِذَا قِيْلَ لَكُمُ انْفِرُوْا فِى سَبِيْلِ اللهِ اثَّاقَلْتُمْ اِلَى اْلأَرْضِ، أَرَضِيْتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ اْلآخِرَةِ، فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِى اْلآخِرَةِ إِلاَّ قَلِيْلٌ (38) إِلاَّ تَنْفِرُوْا يُعَذِّبْكُمُ اللهُ عَذَابًا شَدِيْدًا وَ يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَ لاَ تَضُرُّوْهُ شَيْئًا، وَ اللهُ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ (39)

 

Artinya : ”Wahai orang-orang yang beriman, mengapakah kalian apabila diseru “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah”, kalian merasa berat ke bumi?, apakah kalian ridla terhadap kehidupan dunia daripada akherat, padahal kesenangan (pada) kehidupan dunia ini (dibanding dengan kesenangan pada kehidupan) di akherat hanyalah sedikit. Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan menyiksa kalian dengan siksaan yang pedih dan (Allah) akan mengganti (kalian) dengan kaum selain kalian, sedangkan kalian tidak akan dapat memberi madlarat kepada Nya sedikit pun, dan Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Pada ayat yang lain (surat Al-Ma`idah (4):78-90), Allah menceritakan kejadian yang menimpa bani Israel tatkala mereka enggan untuk berdakwah.

لُعِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ بَنِي اِسْرَائِيْلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَ عِيْسَى بْنِ مَرْيَمَ، ذلِكَ بِمَا عَصَوْا وَ كَانُوْا يَعْتَدُوْنَ (78) كَانُوْا لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوْهُ، لَبِئْسَ مَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ (79) تَرَى كَثِيْرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا، لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ اَنْفُسُهُمْ اَنْ سَخِطَ اللهُ عَلَيْهِمْ وَ فِى اْلعَذَابِ هُمْ خَالِدُوْنَ (80)

Artinya: “Orang-orang yang kafir dari kalangan bani Israel itu dilaknat atas (perantaraan) lisan Dawud dan Isa bin Maryam, yang demikian itu disebabkan mereka berbuat maksiat dan melampaui batas. Mereka itu tidak saling mencegah dari perbuatan  mungkar yang mereka kerjakan, sungguh amat buruk apa yang mereka lakukan. Engkau (Muhammad) akan melihat kebanyakan dari mereka itu menjadikan orang-orang yang kafir sebagai wali, sungguh amat buruk apa yang telah mereka dahulukan untuk diri mereka, (yaitu) kemurkaan Allah atas mereka, dan mereka berada di dalam adzab itu dalam keadaan kekal.”

Disebabkan tujuan utama manusia diciptakan ialah agar menghambakan diri kepada Allah sebagaimana yang Allah firmankan pada surat Adz-Dzariyat (51):56, maka seharusnya segala perbuatan manusia itu bertujuan ibadah, tidak selainnya.

Dalam berdakwah, ada bebarapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu: Persiapan dalam berdakwah dan Mengenali obyek dakwah.

  1. Persiapan dalam berdakwah.

Dakwah memerlukan persiapan, sebagaimana orang yang hendak membangun bangunan juga memerlukan persiapan, entah itu bahan bangunan, dan yang lainnya. Persiapan ini digunakan sebagai pondasi dalam menghadapi rintangan dan halangan yang akan ditemui saat berdakwah nanti. Persiapan tersebut ialah : Shalat Malam (Qiyamullail/Tahajjud). Allah berfirman pada surat Al-Muzzammil (73):1-5:

يَأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (1) قُمِ اللَّيْلَ إِلاَّ قَلِيْلاً (2) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيْلاً (3) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَ رَتِّلِ اْلقُرْآنَ تَرْتِيْلاً (4) إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلاً ثَقِيْلاً (5)

Artinya : “Wahai orang yang berselimut. Bangunlah pada seluruh malam kecuali sedikit. Setengahnya (malam) atau kurangilah darinya sedikit. Atau tambahlah atasnya dan bacalah Al-Qur’an secara tartil. Sesungguhnya Kami akan membebankan atasnya perkataan yang berat.”

  1. Mengenali Obyek Dakwah

Hal yang kedua ini juga amat sangat diperlukan, sebab setiap manusia tatkala dilahirkan di dunia ini memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Ada yang memiliki kecerdasan yang tinggi, ada yang rendah dan ada yang di antara keduanya.

Hal ini menuntut Da`i untuk mengetahui bagaimana dan dengan cara apa dia harus berinteraksi dengan masyarakat yang jadi obyek dakwahnya.

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa alihi wa sallam bersabda:

يَسِّرُوْا وَ لاَ تُعَسِّرُوْا، بَشِّرُوْا وَ لاَ تُنَفِّرُوْا

Artinya : ”Permudahlah oleh kalian dan jangan kalian mempersulit, (serta) berilah kabar gembira oleh kalian dan jangan kalian bikin lari.” HR. Al-Bukhari dan Muslim.

bahkan diriwayatkan dengan sanad yang dla’if bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّا مَعْشَرَ اْلأَنْبِيَاءِ كَذَالِكَ أُمِرْنَا أَنْ نُكَلِّمَ النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُوْلِهِمْ

Artinya: “Kami, para Nabi, seperti itulah kami diperintahkan, (yaitu) kami mengomongi manusia sesuai dengan kemampuan akalnya.”

Dakwah itu terdiri dari dua jenis, dakwah dengan ucapan dan dengan perbuatan. Dua metode dakwah ini harus dipadukan sehingga menghasilkan gerakan dakwah yang dinamis. Sebab adakalanya dakwah dengan ucapan itu lebih berhasil daripada dakwah dengan perbuatan; dan adakalanya dakwah dengan perbuatan itu lebih berhasil dibandingkan dakwah dengan ucapan.

Bahan dan Cara Dakwah :

  1. Al-Qur`an  dan sunnah
  1. Surat Al-Furqan (25):52

فَلاَ تُطِعِ الْكَافِرِْنَ وَ جَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيْرًا (25)

Artinya: “Maka janganlah engkau mengikuti orang-orang kafir dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur`an dengan jihad yang besar.”

  1. Surat Qaaf (50):45

… فَذَكِّرْ بِاْلقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيْدِ (45)

Artinya: “ … maka berilah peringatan kepada Al-Qur`an kepada orang yang takut terhadap ancaman Ku.”

  1. Surat An-Nahl (16):125

اُدْعُ اِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَ الْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَ جَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ اَحْسَنَ … (125)

Artinya: “Serulah (manusia) menuju jalan Pemeliharamu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan jalan yang baik (pula)…”

 

Tujuan Dakwah (ke mana ummat itu diseru)

  1. Kepada Allah.

Ayat-ayat yang menunjukkan tentang tujuan dakwah ini sangatlah banyak, salah satu di antaranya yang terdapat dalam surat Al-Baqarah (2) : 21

 

يَأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ اَّلذِي خَلَقَكُمْ وَ اَّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ (21)

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, Sembahlah oleh kalian Pemelihara kalian, Dzat Yang menciptakan kalian serta orang-orang (yang hidup) sebelum kalian supaya kalian bertaqwa.”

  1. Kepada jalan Allah.

Hal ini sebagaimana terdapat pada surat An-Nahl (16):125

اُدْعُ اِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ …. (125)

 

  1. Kepada pengampunan dan Jannah.

Hal ini sebagaimana terdapat pada surat Al-Hadid (57):21

سَابِقُوْا اِلًى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَ جَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَ اْلأَرْضِ … (21)

Artinya: “Bersegeralah kalian menuju ampunan dari pemelihara kalian dan jannah yang luasnya itu seluas langit dan bumi…”

Sebagai seorang da’i yang menyeru kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah itu memiliki beberapa keuntungan, di antaranya:

  1. Tidak ada rasa takut dan sedih/susah, sebagaimana terdapat dalam surat Yunus (10): 62

أَلآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ اللهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَ لاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ

Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya para wali (kekasih) Allah itu tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak pula mereka itu bersedih.”

  1. Termasuk ahlullah dan kecintaan-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik:

إِنَّ لِلّـهِ أَهْلِيْنَ مِنَ النَّاسِ. قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللهِ ! مَنْ هُمْ ؟ قَالَ: هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ ، أَهْلُ اللهِ و خَاصَّتُهُ

 

 

 

Artinya: “Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia. Mereka (shahabat) bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah mereka itu ?. Rasulullah menjawab: Mereka adalah ahlul Qur`an, (yang merupakan) keluarga Allah dan orang-orang pilihan- Nya.” HR. Ibnu Majah.

Sebagai penutup; perlu diingat, bahwa obyek dakwah itu merupakan manusia yang beraneka ragam sifat dan tingkah lakunya. Oleh karena itu, seorang da’i dituntut sabar dalam menjalankan dakwahnya dan jangan mudah putus asa. Seorang da’i harus bisa mengambil pelajaran dalam hal sabar dari para rasul dan nabi yang telah diutus. Bagaimana kesabaran nabi Nuh yang telah berdakwah selama 950 tahun dan hanya mendapatkan ± 50 pengikut atau bagaimana akibat yang menimpa nabi Yunus, tatkala beliau meninggalkan kaumnya karena berputus asa setelah melihat tidak adanya harapan dari kaumnya untuk beriman kepada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berkali-kali berfirman di dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ / وَ اللهُ يُحِبُّ الصَّابِرِيْنَ

 

Dan perlu diingat pula, bahwa pertolongan dari Allah turun karena kesabaran. Allah berfirman dalam surat Ali Imran (3) :125

بَلَى، اِنْ تَصْبِرُوْا وَ تَتَّقُوْا وَ يَأْتُوْكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ آلاَفٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ مُسَوِّمِيْنَ (125)

Artinya: “Ya (cukup), (bahkan) jika kalian bersabar dan bertaqwa, lalu mereka (orang-orang kafir) itu mendatangi (untuk memerangi) kalian ketika itu juga, maka pemelihara kalian akan memberikan kepada kalian bantuan (berupa) 5.000 malaikat yang memakai tanda.”

Sumberharjo, Eromoko, Wonogiri

Ahad, 23 Maret 2008

15 Rabi’ul Awwal 1429

 

 

Sebelum Philip Morris membeli saham Sampoerna, milyaran rupiah uang umat Islam lari sia-sia membiayai orang kaya tiap hari. Tapi kita susah mengatakan ‘haram’ nya

Diskursus tentang rokok memang salah satu diantara deretan masalah yang tak kunjung mendapat porsi perhatian yang cukup proporsional di negeri kita. Hampir tak ada peraturan ketat di negeri ini yang diberlakukan kepada industri tembakau, tak seperti di negara-negara lain, entah karena manisnya  pajak yang dirasakan oleh negara yang mencapai 27 trilyun dari pajak dan cukai rokok (th. 2003) atau lantaran jumlah konsumennya yang semakin meningkat setiap tahun. Padahal bahaya yang mengancam para penghisap rokok aktif dan mereka yang menghisap asap rokok secara pasif, tak kalah mengerikan. Data-data yang valid dan akurat yang menunjukkan mudharat batang tembakau ini terlalu gamblang untuk dianggap remeh.

Terungkap bahwa tingkat konsumsi rokok di negeri ini untuk perokok pemula, tumbuh paling pesat di dunia. Adapun prosentase konsumsinya, yakni 44 % perokok berusia 10 – 19 tahun dan 37 % berusia 20 – 29 tahun. (satunet.com) dan sudah pasti mayoritas konsumennya berasal dari umat Islam.

Memang secara hukum agama, merokok di negeri kita dikategorikan makruh (tidak disukai), sebuah level hukum yang nyaris menyerempet level haram lantaran mudharatnya. Namun klasifikasi hukum itupun baru ada beberapa abad pasca wafatnya RasulullahShallallaahu ‘alaihi wasallam. Dengan kata lain, makruh pada hakikatnya tidak ada di masa Rasulullah, istilah ini adalah istilah dan klasifikasi Ulama setelah mereka berijtihad untuk menentukan hal-hal yang tidak jelas status hukumnya dalam yurisprudensi Islam atau karena faktor mudharatnya yang tak cukup signifikan terhadap lima tujuan pensyari’atan agama yaitu : kehormatan agama, jiwa, akal, harta dan keturunan.

Pada hakikatnya, acuan hukum yang melandasi pemikiran bahwa merokok itu makruh adalah rapuh dan lemah, lazimnya mereka yang pro-rokok akan berargumentasi bahwa merokok itu membantu proses kontemplasi, sebagai media bersosialisasi yang cukup ampuh atau bila mereka sudah tersudut dengan fakta-fakta mudharat yang diakibatkan oleh asap nikotin itu. Mereka akan berkelit dengan alasan jika memang merokok itu haram tapi haramnya tidak terlalu kuat, … nah !

Bila kita masih bimbang dengan akibat negatif rokok, barangkali aspek-aspek berikut mampu menghilangkan kebimbangan kita :

Aspek kandungan asap rokok

Menurut WHO (World Health Organization) ternyata mengandung 4.000 zat kimia diantaranya ; Polonium –201 (bahan radioaktif), acetone (bahan pembuat cat), ammonia (bahan untuk pencuci lantai), napthalene (bahan kapur barus), DDT & arsenic (yang biasa untuk racun serangga),  hydrogen cyanida (gas beracun yang lazim digunakan di kamar eksekusi hukuman mati),

 

 

tar (bahan karsinogen penyebab kanker), nikotin (sebuah zat yang bisa menimbulkan kecanduan), methanol (bahan bakar roket), cadmium (digunakan untuk accu mobil), vinyil chloride (bahan plastik PVC), phenol bhutane (bahan bakar korek api), carbon monoxide (asap dari knalpot kendaraan) dsb. (Hidayatullah edisi Syawwal 1424 H)

Aspek kebiasaan merokok 

Aspek ini juga terbukti berhubungan dengan sedikitnya 25 jenis penyakit di berbagai organ tubuh dari kepala sampai kaki. Berikut diantaranya; Karena merokok, sistem kekebalan tubuh dapat menurun sehingga dapat menyebabkan kerontokan rambut, semburan zat kimia beracun rokok dapat mengiritasi mata dan berpeluang menyebabkan katarak, asap rokok dapat membakar protein dan merusak vitamin A sehingga kulit menjadi keriput dan kering, rokok dapat menyebabkan plague (plak) pada pembuluh darah sehingga aliran darah ke telinga jadi terhambat dan akibatnya bisa merusak pendengaran, zat kimia beracun pada rokok dapat menimbulkan plak di gigi, zat karbon dioksida pada asap rokok dapat juga mengakibatkan osteoporosis (tulang rapuh), asap rokok juga menyumbat pembuluh darah, mengakibatkan sakit jantung, stroke, racun asap rokok dapat merusak DNA, kanker rahim hingga keguguran dan masih banyak penyakit lainnya.

Belum lagi efek negatif lain yang tak kurang bahayanya, yakni efeknya terhadap ETS (Environmental Tobacco Smokes) sebuah istilah untuk orang yang mengisap asap rokok orang lain (perokok pasif) adalah sama bahkan lebih berbahaya dari perokok aktif padahal lebih dari separuh rumah tangga di Indonesia memiliki setidaknya satu orang perokok aktif dan asap berbahaya itu akhirnya disedot oleh anak dan istrinya sendiri !

Aspek ekonomi

Tak diragukan lagi bahwa merokok telah berefek negatif terhadap ekonomi keluarga. Betapa tidak, bila diasumsikan ada seseorang yang mengkonsumsi rata-rata 1 bungkus rokok per hari dengan harga standard Rp. 6.000,-, maka bisa dipastikan harus ada anggaran yang harus disiapkan oleh orang tersebut paling sedikit sebesar Rp. 180.000,-/bulan, padahal tak jarang ia menghabiskan 24 batang rokok sehari, dengan jumlah itu terakumulasi uang sebesar Rp. 2.160.000,- /tahun yang “dibakar “ sia-sia !

Sekedar perbandingan, di Malaysia, per individu bisa menghabiskan RM 1.800 / tahun atau setara dengan  Rp. 3.600.000,- hanya untuk membeli asap nikotin (1 Ringgit Malaysia = Rp. 2.000,- ).

Di Mesir, ada sekitar 13.000.000 orang menghisap 85 Milyar batang rokok setiap tahunnya dan membakar hangus  2 Milyar LIRA  mengasap di udara, rata-rata keluarga di sana menghabiskan 5 % dari penghasilannya untuk mengkonsumsi rokok. (Alahram.net)

Betapa sayangnya bila uang sebesar itu hanya digunakan untuk membeli asap racun, alangkah lebih bermanfaatnya bila uang sebesar itu dimanfaatkan untuk kebutuhan yang lebih memberikan faedah bagi perokok dan keluarganya.

Sekian banyak data, fakta dan hasil survei di atas membuktikan bahwa mudharat dan efek negatif yang diakibatkan oleh rokok cukup signifikan.

Sebagai seorang Muslim yang berazam menjadi pengikut Rasulullah Muhammad SAW, setelah menyimak data dan fakta di atas maka kita harus benar-benar mengembalikannya kepada panduan yang telah Allah dan Rasul-Nya wariskan kepada kita. Beberapa ayat dan hadits berikut barangkali bisa menjadi bahan pertimbangan.“…dan mudharatnya lebih banyak dari manfaatnya” (Qs. Al Baqarah 219), “ … Dan janganlah kamu jatuhkan dirimu dalam kebinasaan …”( Qs. Al Baqarah 195), merokok juga termasuk israf (membuang-buang uang sia-sia) seperti dalam Qs. Al An’am 141 dan Al A’raf 31 setelah melihat begitu besarnya budget yang harus disediakan.

Dan ada lebih dari satu hadits yang menyiratkan makna bahwa merokok itu diharamkan seperti laa dharara wa laa dhiraara (tidak diperkenankan membahayakan diri sendiri dan orang lain). Juga hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang artinya “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka ia tak akan menyakiti tetangganya” tetangganya disini berarti siapa saja yang berada didekat atau lingkungannya, dalam hadits lain Rasulullah SAW juga melarang setiap hal yang memabukkan dan melemahkan sebagaiman yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Abu Daud dari Ummu Salamah r.a.

Memang tak ada dalil yang secara tegas-tegas mengharamkan rokok, tapi mari sejenak kita renungkan dan bandingkan dengan hati yang jernih beberapa aspek negatif diatas dengan aspek positif dari batang tembakau tersebut, jawabannya ada dalam diri kita masing-masing.

Sebelum perusahaan rokok raksasa Amerika, Philip Morris membeli empat puluh persen saham PT. Hanjaya Mandala Sampoerna, industri rokok ketiga terbesar Indonesia, uang miyaran rupiah setiap bulan –yang kebanyakan adalah umat Islam—hanya membiayai kehiduoan segelintir orang-orang superkaya Indonesia keturunan Cina.

Setelah ini, di mana Philip Morris International sudah empat puluh persen saham PT. Hanjaya Mandala Sampoerna, uang yang kita keluarkan untuk mensubdisi rokok itu, sama halnya membesarkan perusahaan-perusahaan Amerika yang dananya –mungkin saja—untuk menyesatkan saudara-saudara seiman kita.

sumber: http://www.hidayatullah.com

 

Rasulullah saw. bersabda:
مَاءُ زَمْزَمُ لِمَا شُرِبَ لَهُ
“Air zam-zam itu (tergantung) untuk apa diminum.” HR. Ibnu Majah

Nabi saw lantas menerangkan maksud sabda beliau tersebut, yaitu:
إن شربته تستشفي شفاك الله . وإن شربته لشبعك أشبعك الله وإن شربته لقطع ظمئك قطعه الله
“jika anda meminumnya untuk mencari kesembuhan, niscaya ALLAH memberikan kesembuhan kepada Anda. Dan jika anda meminumnya agar kenyang niscaya ALLAH mengenyangkan Anda. Dan jika anda meminumnya untuk memutus (melenyapkan) rasa dahaga niscaya ALLAH memutusnya .”

  HR. Daruqutni dan al Hakim, sanadnya dinilai shahih oleh al Hakim.

 

Ibnu Abbas ra meminum air zam-zam dengan tujuan agar diberi ilmu oleh ALLAH swt. Akhirnya beliau menjadi ulama’ yang sangat luas ilmunya, sehingga dijuluki dengan البحر (al bahr:laut).

Imam Al Hakim rahimahullah meminumnya dengan tujuan agar pandai menulis. Ternyata kitab-kitab beliau diakui cukup sistematis oleh para ulama’.